Ayie Cinano di Tengah Moderenitas: Praktik Pengobatan Tradisional Masyarakat Desa Pelak Gedang Kabupaten Kerinci untuk Demam dan Campak
Abstrak
This article discusses the sustainability of the practice of traditional ayie cinano medicine in the people of Pelak Gedang Village, Kerinci Regency, in the midst of the increasingly strong currents of modernity. Ayie cinano, as a traditional healing method for fever and measles, is still maintained by some people, but is now starting to be pressured by the development of modern health services, changes in mindset, and the diminishing interest of the younger generation in ancestral traditions. The lack of documentation and weak inheritance of knowledge also increase the risk of the loss of this practice in the future. Based on these problems, this study aims to find out the form of practice of using ayie cinano, the cultural meaning that underlies it, and how modernity affects people's views on this traditional medicine. The research uses ethnomedical theory to understand the links between healing practices, local knowledge systems, and cultural values that live in communities. The ethnographic method is applied through interviews, observations, and documentation to obtain an in-depth picture of the practice of ayie cinano. The results of the study show that ayie cinano has a strong cultural significance as an ancestral heritage that connects humans, nature, and spirituality. The practice involves the use of natural materials from nature accompanied by the recitation of prayers and mantras, as well as the existence of special ordinances that are part of the local knowledge structure. In addition to serving as a healing medium, ayie cinano also strengthens solidarity and social cohesion. However, modernity has led to a shift in people's preferences, although some still combine traditional and medical medicine. Conservation challenges arise from reduced regeneration, but revitalization opportunities remain open through documentation and development of cultural research.
Artikel ini membahas tentang keberlangsungan praktik pengobatan tradisional ayie cinano pada masyarakat Desa Pelak Gedang, Kabupaten Kerinci, di tengah arus modernitas yang semakin kuat. Ayie cinano, sebagai metode penyembuhan tradisional untuk demam dan campak, masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat, namun kini mulai mengalami tekanan akibat perkembangan layanan kesehatan modern, perubahan pola pikir, serta berkurangnya minat generasi muda terhadap tradisi leluhur. Minimnya dokumentasi dan lemahnya pewarisan pengetahuan turut memperbesar risiko hilangnya praktik ini di masa depan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk praktik penggunaan ayie cinano, makna budaya yang melandasinya, serta bagaimana modernitas memengaruhi pandangan masyarakat terhadap pengobatan tradisional ini. Penelitian menggunakan teori etnomedisin untuk memahami kaitan antara praktik penyembuhan, sistem pengetahuan lokal, dan nilai budaya yang hidup dalam masyarakat. Metode etnografi diterapkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi guna memperoleh gambaran mendalam mengenai praktik ayie cinano. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayie cinano memiliki makna budaya yang kuat sebagai warisan leluhur yang menghubungkan manusia, alam, dan spiritualitas. Praktiknya melibatkan penggunaan bahan alami dari alam disertai pembacaan doa dan mantra, serta adanya tata cara khusus yang menjadi bagian dari struktur pengetahuan lokal. Selain berfungsi sebagai media penyembuhan, ayie cinano juga memperkuat solidaritas dan kohesi sosial. Namun, modernitas menyebabkan pergeseran preferensi masyarakat, meskipun sebagian tetap memadukan pengobatan tradisional dan medis. Tantangan pelestarian muncul dari berkurangnya regenerasi, tetapi peluang revitalisasi tetap terbuka melalui dokumentasi dan pengembangan penelitian budaya.
Unduhan
Hak Cipta (c) 2026 Yova Sandra, Jamal Mirdad

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
