Antara Matrilineal dan Faraidh: Negosiasi Otoritas dan Pergeseran Pola Penyelesaian Sengketa Waris di Minangkabau
DOI:
https://doi.org/10.32939/islamika.v26i1.6991Keywords:
Matrilineal; Faraidh; Inheritance Dispute; Minangkabau Customary Law; Legal PluralismAbstract
This study examines the dynamic tension between Minangkabau matrilineal customary law and Islamic inheritance law (faraidh) in resolving inheritance disputes, with Nagari Alahan Panjang, Lembah Gumanti District, Solok Regency as the case study. Employing a qualitative field research approach within a legal pluralism framework (Griffiths, 1986; Hooker, 1975), data were gathered through in-depth interviews with ninik mamak, religious figures, the nagari leader, and community members directly involved in disputes, conducted in February 2026. The findings reveal three forms of inheritance disputes reflecting escalating severity: misappropriation of pusaka property by mamak figures, unauthorized transfer of communal ulayat land triggering mass protests in 2023, and disputes escalating into criminal acts, notably an arson case. The findings further document a shift in dispute resolution patterns: while customary mechanisms through the bajanjang naik batanggo turun principle remain effective in approximately 70% of cases, escalating economic pressures and generational divergence in understanding faraidh are increasingly bypassing traditional mediation and forcing disputes into the criminal justice system. Both systems share substantive convergence in prioritizing deliberation (musyawarah), justice, and social harmony, reflected in the philosophical principle of adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Contributing to legal pluralism scholarship, this study empirically identifies the structural conditions under which integration of both systems succeeds or fails: effective dispute resolution requires the simultaneous involvement of ninik mamak and ulama from the earliest stage of conflict, supported by written documentation of deliberation outcomes and improved inheritance law literacy in the community.
Downloads
References
Afadarma, R. (2010). Peranan ketua adat dan kerapatan adat nagari dalam penyelesaian sengketa harta pusaka tinggi di Nagari Sungai Tarab Kabupaten Tanah Datar Provinsi Sumatera Barat (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).
Afifah, F., Luthfy, R. M., & Hadi, F. (2026). Hukum adat kekerabatan dalam kerangka hukum adat di Indonesia. Wijaya Putra Law Review, 5(1), 136–156.
Agustar, R. (2008). Pelaksanaan pembagian warisan atas harta pencarian dalam lingkungan adat Minangkabau di Kecamatan Lubuk Kilangan Kota Padang (Doctoral dissertation, Universitas Diponegoro).
Aoslavia, C. (2021). Perbandingan hukum waris adat Minangkabau Sumatera Barat dan hukum perdata barat. Mizan: Jurnal Ilmu Hukum, 10(1), 54–63.
Asmuni, I., & Rahmi, A. (2021). Hukum waris Islam: Komparatif antara fikih klasik dan fikih kontemporer. Perdana Publishing.
Badridduja, F. (2026). Pewarisan tanah Minangkabau dalam ilmu fara'idh; dialog, negosiasi, pola interaksi dan dinamika antara adat Minangkabau dan agama. Journal of Contemporary Law Studies, 3(2), 215–236. https://doi.org/10.47134/lawstudies.v3i2.5523
Deyan, R., & Afrizal, T. Y. (2021). Penyelesaian sengketa waris menurut hukum adat Minangkabau dan hukum Islam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, 4(3).
Elfia. (2023). Hukum kewarisan Islam. Madza Media.
Eric, E. (2019). Hubungan antara hukum Islam dan hukum adat dalam pembagian warisan di dalam masyarakat Minangkabau. Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 3(1), 61–70.
Griffiths, J. (1986). What is legal pluralism? The Journal of Legal Pluralism and Unofficial Law, 18(24), 1–55.
Haq, H. S. (2025). Legal pluralism and inheritance rights: Resolving conflicts between local customs and national law in Indonesia. Kosmik Hukum, 25(1), 148–159. https://doi.org/10.30595/kosmikhukum.v25i1.23727
Harahap, A. P., Ramadhona, A., Sari, M., & Hasibuan, N. L. (2025). Legal pluralism and customary justice in Indonesia: Reconstructing adat law under state legal dominance. Littera Legis: Journal of Law, Society, and Justice, 1(1), 1–16.
Hooker, M. B. (1975). Legal pluralism: An introduction to colonial and neo-colonial laws. Oxford University Press.
Kaban, M. (2016). Penyelesaian sengketa waris tanah adat pada masyarakat adat Karo. Jurnal Mimbar Hukum, 28(3), 453–465.
Kevin, K. B. (2019). Tindak pidana perusakan barang dalam Pasal 406 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Kajian Putusan Mahkamah Agung Nomor 619 K/Pid/2017). Lex Crimen, 8(5).
Khaled, M. (2023). Konsep penyelesaian sengketa harta warisan dalam hukum Islam. Jurnal Al-Mizan, 10(2), 123–134.
Mustari, A. (2013). Hukum kewarisan Islam (Ed. 1, Cet. 1). Alauddin University Press.
Nofiardi, N. (2023). Hukum kewarisan Islam antara teori dan praktek.
Pradicintia, T., & Adiasih, N. (2025). Penyelesaian sengketa warisan di masyarakat adat Minangkabau yang dilakukan oleh ninik mamak. Reformasi Hukum Trisakti, 7, 502–513.
Putri, N. T., & Nailufar, S. (2023). Sistem hukum waris adat Minangkabau. Indonesian Journal of Social Sciences and Humanities, 3(2), 47–52.
Rafsanjani, Z. S., Wulandari, V., Febryerko, C. H., & Parhan, M. (2025). Maqasid al-Sharia dalam waris matrilineal: Analisis fatwa ulama perempuan Minangkabau berdasarkan prinsip ABS SBK. Akhlak: Jurnal Pendidikan Agama Islam dan Filsafat, 2(3), 290–301.
Romadhan, R., Ariana, A., & Noviani, D. (2024). Hukum waris adat Minangkabau dalam perspektif Islam. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 1(3), 459–470.
Sarmadi, A. S. (2024). Sengketa waris dalam keluarga: Analisis pustaka tentang penyebab dan penyelesaiannya dalam perspektif hukum perdata. Indonesian Research Journal on Education, 4(1).
Suherman, J. (2023). Analisis maslahah terhadap "kewarisan" harta pusaka tinggi di Minangkabau (Doctoral dissertation, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Sulfinadia, H., Roszi, J. P., & Puspita, M. (2026). Negotiating Islamic inheritance and customary law: Functional legal pluralism and matrilineal pusako randah in Minangkabau. Journal of Islamic Law, 7, 1.
Sulfinadia, H., Roszi, J. P., Suryani, E., Safitri, D. I., & Ramadhan, R. (2026). Bentuk kewarisan dari perkawinan antar etnis: Studi atas praktik kewarisan di Minangkabau. Deepublish.
Surya, K. (2018). Peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam menyelesaikan sengketa tanah adat di Kecamatan Kuranji Kota Padang (Doctoral dissertation, Universitas Andalas).
Syarifuddin, A. (2015). Hukum kewarisan Islam. Prenada Media.
Thalib, S. (2022). Hukum kewarisan Islam di Indonesia (Edisi Revisi). Sinar Grafika.
Zulfadli, W. B., & Oktaviani, W. (2025). Implementasi perpindahan warisan pusaka tinggi menjadi pusaka rendah dalam adat Minangkabau perspektif maqāṣid al-syarī'ah. BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam, 6(3), 557–574.
Informant:
Datuak Marajo. Datuak Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 10 Februari 2026.
Erdayenti, Astuti, Elmidanis. Masyarakat Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 10 Februari 2026.
Erisman. Tokoh Agama Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 11 Februari 2026.
Ilmardi. Tokoh Agama Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 11 Februari 2026.
Salman. Niniak Mamak Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 10 Februari 2026.
Taslim. Niniak Mamak Nagari Alahan Panjang Kecamatan Lembah Gumanti. Wawancara Langsung, 10 Februari 2026.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Mella Yolanda Sari, Ismail

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

